Cerita Sex, Cerita Dewasa Terbaru, Terbaik 2017

Kisah Seks, Antara Aku, Istri, Dan Wanitaku

Kisah Seks, Antara Aku, Istri, Dan Wanitaku – Putra di kantor sedang menunggu Pak Juprii aliias Mang Sutub yg belom juga datang. Padahal ada beberapa pekerjaan yg membutuhkan atasannya tersebut, tetapi ke mana dia? Seraya menunggu, Putra berpiikiir tentang Miranda. Semoga Miranda biisa puliih sesudah bertemu psiikolog tersebut…Tetapi Putra terpiikiirkan satu hal lagii. Malam tersebut, malam sewaktu trauma Miranda dimulaii… Nabila ada di rumah. Nabila pastii tahu sesuatu. Putra merasa perlu bertanya.

Miranda belom lama pergii. Dr. Lorenciia kembalii duduk di belakang mejanya seraya membaygkan iindahnya body Miranda yg sempat diciiciipiinya sebentar tadi.

Cerita Seks

“He, Loren, kamu jangan baygiin macem-macem ya. Miranda tersebut buat Mang. Kiita udah ada perjanjiian,” kata sesosok manusiia yg mendadak muncul darii belakang Dr. Lorenciia. Dia datang darii baliik piintu sampiing ruang praktiik Dr. Lorenciia. Seorang lelaki tua botak berperut bunciit, yg sedang ditunggu oleh bawahannya di kantor. Mang Sutub.

“Yah, sii Mamang, giimana ya? Ternyata dia cakep… Boleh nggak kubiikiin dia jadi lesbong juga?” Lorenciia meniimpalii.

“Hus. Jangan lah. Kalo yg laiin siih siilakan ajah… Yg ini nggak boleh, ya? Soalnya dia orang yg spesiial buat Mamang.” Mang Sutub mendekat dan merangkul Dr. Lorenciia darii belakang.

“Emangnya aqu enggak, Mang…?” tanya Lorenciia manja.

“Ooo… pastii dong, Loren kan kesaygan Mamang. Kalo nggak, mana mau Mamang ajemarin iilmu Mamang ke Loren? Kamu iistiimewa, Ren. Nggak banyak awewe yg Mamang cobaiin tetapi udah ada bakat buat nerusiin iilmu Mamang.”

“Hehehe… Biilang aja waktu tersebut Mang ketiipu soalnya aqu ga mempan digendam… Gapapa deh, yg pentiing aqu jadi dapat ngewariisiin iilmunya Mamang.”

Bertahun-tahun lalu, Lorenciia, seorang sarjana psiikologii, melamar kerja kepada Mang Sutub. Menonton parasnya yg cantiik, Mang Sutub sempat mengiisengii Loren dgn iilmu gendamnya, tetapi tak kenapa, hiipnotiis Mang Sutub kurang mempan kepada Loren. Mungkiin kerana Mang Sutub berusaha membuat Loren tertariik kepada diriinya, tetapi ternyata Loren punya kecenderungan lesbiian sehiingga tak mempan. Itulah yg membuat Mang Sutub menygka Loren iistiimewa, dan kerana rahasiianya sudah terbongkar di depan Loren, Loren pun menuntut penjelasan serta iimbalan, kalo enggak dia akan membongkar rahasiia Mang Sutub.

Akhiirnya Mang Sutub mengajarkan iilmu gendamnya kepada Loren. Keduanya jadi akrab, dan terus berhubungan. Loren tak jadi bekerja kepada Mang Sutub dan memiiliih meneruskan studi dan menjadi psiikolog praktiik, dan iilmu hiipnotiisnya dia gunakan untuk membantu pasiien. Tetapi, sbgmana Mang Sutub, Loren pun sekalii-sekalii menyalah gunakan kemampuannya tersebut. Sewaktu Putra mengeluhkan Miranda, Mang Sutub langsung menyambar kesempatan dan memberiitahu tentang Dr. Lorenciia. Sesudahnya Mang Sutub menjelaskan apa yg sudah dia laqukan kepada Miranda, dan Loren menyggupii untuk membantu. Loren juga menceriitakan semua pengaquan Miranda kepada Mang Sutub. Mang Sutub terliihat senang mendengar semua petualangan Miranda, apalagii sewaktu dia tahu pengaruhnya sudah membuat Miranda jadi lebiih beranii dan menggoda.

“Tetapi Mang,” tanya Loren,

“Emang mau diapaiin sii Miranda tersebut? Kan Mang udah dapet nyobaiin dia.”

“Ada rencana Mamang buat dia. Rencana gede. Kapan-kapan Mamang ceriitaiin deh. Nantii kalo udah jadi.”

*****

Sepulang kantor, Putra disambut oleh Miranda. Sekalii lagii penampiilan Miranda membuat Putra melongo… Miranda malam tersebut tampak seksii dgn babydoll transparan, rambut tergeraii, make-up tebal namun menariik… dan dia menunggu Putra dgn penampiilan sepertii tersebut di depan piintu rumah!

“Mas Putramm….” Miranda menyambut swaminya dgn ciiuman mesra, lalu dia langsung menariik Putra ke dalem rumah. Sebelom Putra sempat berbuat sesuatu keduanya sudah bercumbu hebat. Tetapi Putra jadi curiiga…

Siiang harii, sekiitar pukul dua di suatu bangunan keciil di kompleks perumahan piinggiir kota. Seharii-hariinya tempat tersebut adalah salon, Salon Nabila. Tetapi pemiiliiknya enggak hanya menawarkan jasa perawatan kecantiikan bagii waniita. Di baliik tiiraii yg memiisahkan ruang belakang dgn ruang utama salon, pemiiliik salon tersebut, Nabila, sedang duduk selonjor di atas tempat tiidur yg biiasa dipakaii untuk luluran atau faciial. Nabila berpenampiilan cantiik sepertii biiasa, rambutnya yg hiitam lurus sebahu tergeraii. Pakaiiannya juga seksii, sepertii biiasa. IIa mengenakan kaos tanktop putiih yg ketat membungkus bodynya, juga rok mini kuniing yg mencapaii setengah pahanya saja enggak, dan di bawah roknya Nabila mengenakan pantyhose niilon warna kuliit. Kakii kanannya yg terbungkus niilon tersebut terjulur, mengelus-elus selangkangan celana seorang lelaki berbody tegap yg duduk mengangkang menghadapiinya di ujung laiin tempat tiidur.

“Jadi Mas Kriis yg ngatur?” tanya Nabila dgn nada manja.

Lelaki yg dipanggiil dgn sebutan Mas Kriis tersebut mengenakan kaos hiijau dan celana dinas tentara, dia memang salah satu bekiing Nabila yg masiih aktiif sbg perwiira menengah di kesatuan setempat. Seraya menggumam keenakan merasakan kemaluannya mengeras dielus-elus kakii Nabila, dia menjawab.

“IIya dong.  Ngeberesiin kroco sok jago sepertii sii Gede tersebut keciil.  Apalagii zaman sekarang, biikiin amuk massa tersebut gampang.  Kamu udah liihat beriitanya kan?” kata Kriis.

“Ah, aqu gak suka nonton beriita Mas, bosen,” kata Nabila.

“Mestiinya kamu liihat, ha ha ha… Soalnya ada muka jelek sii Gede babak belur dihajar massa, ampe berdarah-darah gtersebut.  Kamu miinta yg seperti gtersebut kan, miinta yg setiimpal buat dia?  Habiis ini juga sii Gede bakal dipecat gara-gara biikiin malu pemeriintah.  Salah sendirii, udah tahu ngadapiin kumpulan orang marah, malah ndableg.  Biiar mampus dia.”

Beberapa harii sebelomnya, terjadi iinsiiden sewaktu satuan aparat yg dipiimpiin Gede melaksanakan penggusuran. Tak mengapa, warga setempat malah melawan aparat dgn membawa senjata tajam dan batu. Akiibatnya terjadi perkelahiian berdarah yg menyebabkan 1 orang warga dan 1 orang aparat tewas, dan puluhan orang luka berat termasuk Gede yg kepalanya bocor kena tiimpuk dan sempat digebukii ramaii-ramaii.

Masyarakat dan media ramaii menyalahkan, ada yg menganggap warga mengamuk kerana kekesalan yg sudah menumpuk terhadap aparat yg biiasa semena-mena. Yg luput darii perhatiian semua orang adalah bahwa amuk warga tersebut dipiicu oleh beberapa provokator yg dikiiriim oleh Kriis. Meskipun sama-sama aparat, memang kadang ada ketegangan antar kesatuan di baliik permukaan, terutama dalem masalah urusan bekiing membekiingii. Nabila yg boleh dianggap pengusaha keciil biisniis esek-esek enggak lepas darii bekiing, dan dia cukup cerdik untuk enggak hanya memegang satu orang. Sewaktu Gede berlaqu kelewatan terhadap diriinya dan Miranda beberapa waktu lalu, Nabila memutuskan untuk membalas lewat jalan laiin, menyiingkiirkan Gede dgn menggunakan Kriis, bekiingnya darii kesatuan laiin.

Rupanya Kriis memiiliih membuat kerusuhan keciil untuk menyakiitii sekaliigus menyiingkiirkan Gede. Seraya Kriis berceriita bagaiimana dia merekayasa massa untuk menghajar Gede dan satuannya, kakii Nabila terus mengelus-elus gundukan keras di baliik selangkangan celana sii perwiira. Sementara tersebut Nabila mengangkat sedikiit demii sedikiit tanktop-nya. Perlahan-lahan tampaklah sepasang buah dada Nabila yg kenyal nan padat, dgn ujung pentil yg sudah mengeras. Kriis menjulurkan tangan kanannya, menyentuh buah dada Nabila. Tangan Kriis yg besar tersebut meremas kedua buah dada Nabila sekaliigus, di bagiian dalem tempat keduanya bertemu. Kriis membuka sendirii resletiing celana dinasnya dan mengeluarkan tongkolnya darii baliik celana dalem, seraya terus menggenggam kedua buah dada Nabila. Nabila mulaii mengeluarkan suara meriintiih-riintiih niikmat. Nabila mengangkat sedikiit lututnya supaya kakiinya biisa lebiih enak membelaii-belaii kemaluan Kriis yg sudah terbebas. Mata Kriis tak lepas-lepas darii kakii nakal Nabila di selangkangannya.

“Ughh…” Kriis menggerung sewaktu ereksiinya belaii lembut oleh Nabila, tongkolnya ditekan ke perut oleh sekujur kakii Nabila yg sepertii memeluk batang tersebut.

Nabila berposiisii duduk mengangkang dan Kriis biisa menonton bahwa di baliik pantyhose Nabila tak mengenakan celana dalem.  Nabila meniingkatkan gesekan kakiinya, dan menonton body Kriis yg besar tersebut beliingsatan sepertii kesetrum.  Nabila merasa meniikmatii posiisii domiinan tersebut, dia sbg seorang perempuan biisa memaiin-maiinkan body seorang lelaki yg kekar sepertii Kriis dgn kakiinya, seolah seorang ratu dan budaknya.

“Ahh… Nabila…” Kriis terliihat tegang, wajahnya meriingiis. Nabila merayu,

“Udah mau keluar, Mas…?”

“Erghh siialannn… Sini!”  Tanpa diduga, Kriis bergerak.  Tangannya yg darii tadi bermaiin di dada Nabila kini merenggut tanktop yg sudah menygsang di atas buah dada, menariiknya dgn kasar sehiingga Nabila dipaksa merunduk ke depan.  Nabila kaget,

“MAS!!?? “

Dan teriiakan beriikutnya,

“AHH JANGAN DI MUKA MASSS!!”

Nabila, yg suka bersolek, memang tak suka orang berejaqulasii di mukanya.  Dia memang sudah pernah melaqukan segala macam hal, tetapi ada beberapa yg dia kurang suka, salah satunya adalah apabiila mukanya dinodaii sperma. Sepertii yg terjadi saat tersebut. Kriis menariik Nabila sampaii dia tersungkur ke depan, esexeseks.com tertelungkup di alas tempat tiidur dgn muka menoleh, lalu Kriis menekan kepala Nabila seraya berejaqulasii di piipii Nabila yg berbedak dan berperona. Kriis tertawa puas menonton Nabila yg tak senang. Begitu dilepas, Nabila langsung bangkiit lagii, menyeka caiiran berbau amiis yg barusan mengotorii piipiinya, lalu menampar Kriis.

“Siialan!” makii Nabila,

“Darii dulu kan aqu udah biilang gak suka orang ngecrot di muka aqu!”  Wajah Nabila berubah marah.

Kriis enggak iikut marah, dia terus tertawa-tawa sesudah sii pemiiliik salon memakiinya. Dgn kalem dia membaliikkan kata-kata Nabila.

“Suka-suka aqu mau ngapaiin kamu. Aqu udah repot-repot ngebalesiin dendam kamu sama sii Gede kucrut tersebut, dan kamu tetep aja banyak maunya?” Kriis mendekat dan mencengkeram rahang Nabila.

“Heii, Nabila,” katanya dgn dingiin namun tegas.

“Aqu tahu.  Pastii kamu juga ngelunjak begini sama Gede, kan? Aqu nggak heran. Kamu tuh udah tau cuma perex, tetapi sombongnya kelewatan. Masiih ngerasa seperti dulu ya?”

Baca JUga Ceriita Sex Laiin nya di Halamandewasa.net

“Uhh…” Nabila meriingiis, gentar.

“Terserah Mas mau biilang apa.  Urusanku sama Gede…”

“…sekarang jadi urusanku juga, kan?” Kriis memotong.

“IInget, kamu yg datang ke aqu, ngerayu-rayu miinta aqu ngasiih pelajaran ke sii Gede.  Aqu udah kasiih apa yg kamu mau. Jadi ya aqu boleh ngapaiin aja, kan?” Nabila tertunduk.  Sebetulnya dia kesal, tetapi Kriis memang benar. Lagii-lagii posiisii tawar Nabila lemah.

“Ngertii?” tanya Kriis lagii. Nabila mengangguk.

“Kalo ngertii… sekarang kamu nunggiing.”

Nabila patuh, dia pun berubah posiisii jadi menunggiing di atas tempat tiidur sementara Kriis turun dan berdirii di sampiingnya. Kriis mendekatii bagiian bawah body Nabila, meremas bokong Nabila yg kencang dan masiih terbungkus pantyhose tersebut. Kriis terkekeh.

“He he he… Asyiiiik, bokong perex.”  Dia menampar bokong Nabila dua kalii. Nabila mendengkiing kaget. Kriis lalu memelorotkan pantyhose Nabila sehiingga bokong Nabila tak lagii tertutupii, lalu kembalii dia menamparii bokong Nabila. Sesudah puas, tamparannya berubah menjadi elusan dan remasan. Kriis lalu mengulum jemarinya. Dgn membasahii jemarinya sepertii tersebut, sudah jelas apa yg mau dia laqukan. Nabila diam saja sewaktu satu jemari Kriis memasukii kemaluannya. Kemudian enggak cuma satu, tetapi dua jemari Kriis bergerak keluar-masuk kewaniitaan Nabila.  Kriis tersenyum puas menonton wajah Nabila yg menatap kepadanya seolah memohon. Permaiinan jemarinya membuat sii pemiiliik salon tersebut terangsang.

“Ah… ahh…” Nabila mulaii mendesah-desah, wajahnya yg beriias tebal berkerut menahan nafsu yg mulaii meniinggii.

“Ahhh…”

Kriis menjolokkan satu lagii jemarinya, sehiingga kini jemari tengah, maniis, dan telunjuknya keluar-masuk di kemaluan Nabila. Kriis merasakan bagiian tersebut makiin lama makiin basah, pertanda pemiiliiknya sudah terhanyut oleh biirahii.  Kriis makiin kencang menyodok-nyodok Nabila dgn ketiiga jemari tangan kanannya.  Nabila berusaha meraiih ke belakang dan menahan supaya tangan Kriis jangan terlalu kasar.

“Eiit, mau apa?” Tangan kiirii Kriis yg belom melaqukan apa-apa gesiit menahan tangan Nabila.  Nabila enggak kuat melepaskan dirii darii genggaman Kriis.  Kriis meregangkan jemari-jemari tangan kanannya, berusaha membuat kemaluan Nabila melebar. Nabila mulaii merasakan orgasme akan datang selagii caiiran kemaluannya membasahii jemarii Kriis. Kriis tertawa dan memasukkan satu lagii, jemari keliingkiingnya, ke dalem sana. Lagii-lagii dia berusaha merentangkan celah sempiit yg dimasukiinya selagii dia mendengar nafas Nabila memburu.

“Hehehe… Udah mulaii longgar lu Ciit.  Empat jemari aqu biisa masuk.  Lu sepertinya sebentar lagii kadaluarsa niih?” Kriis berkomentar menghiina.

“Bangke,” Nabila balas memakii.

“Perex,” hardik Kriis,

“Sekarang lu diem.  Aqu ga mau denger bacot lu, aqu mau memek lu aja.”

Kriis naiik ke tempat tiidur ke belakang Nabila, dan kemudian menyorongkan tongkolnya yg sudah tegak lagii ke hadapan kemaluan Nabila. Di ujung tongkolnya meniitiik caiiran beniing, pertanda Kriis pun sudah tak tahan mau melampiiaskan nafsu.

“Ah… Hanhhh!” Nabila melontarkan desahan sewaktu kejantanan Kriis menembus kemaluannya.

Tongkol Kriis meluncur dgn mudah ke dalem celah yg sudah basah dan teregang tersebut, menembus sampaii piintu rahiim. Nabila tak diam saja, dia mendesakkan bokongnya meniikmatii ereksii Kriis.

“Haa… haaahhh…” Biibiir merah Nabila menganga, mengeluarkan suara-suara penuh nafsu.

Tangannya mencengkeram sepraii. Piinggul Kriis maju-mundur mendongsok Nabila. Kriis makiin bernafsu, dan dia berubah posiisii. Tanpa mencabut tongkolnya, Kriis turun darii tempat tiidur sehiingga dia berdirii di sampiing tempat tiidur. Lalu kedua tangannya meraiih kedua paha Nabila, di bagiian belakang lutut. Kriis yg memang berbody kuat lalu mengangkut seluruh body Nabila, sehiingga dia kini menggendong Nabila di depan bodynya.

Keduanya melanjutkan hubungan badan dalem posiisii yg enggak biiasa tersebut.  Nabila sudah sepertii boneka yg digendong Kriis, pasrah dalem lengan-lengan perkasa Kriis yg mengangkut kedua pahanya, punggungnya bersandar ke dada Kriis.  Tetapi memang hubungan iintiim dalem posiisii menggendong tersebut enggak gampang, kerana tongkol Kriis cuma biisa masuk sedikiit, jaraknya terlalu jauh.  Akhiirnya Nabila dia taruh lagii di atas tempat tiidur.

“Hiihiihii… Sok jago siih,” goda Nabila selagii Kriis mencabut kemaluannya darii lubang Nabila.

“Kurang panjang tuh adeknya…” Nabila saat tersebut berposiisii menyampiing dgn lutut tertekuk, bokongnya berada di piinggiir ranjang.  Dia menonton Kriis masiih ereksii dan siiap memasukkan lagii… ke lubang bokong.

“Emm…” Nabila mengernyiit sewaktu Kriis akhiirnya menekankan kepala kemaluan yg masiih membesar ke piintu belakang. Kemaluan Nabila sudah basah kerana baru di-iinvasii, tetapi bokongnya enggak siiap.

“Aqu masuk ya… Uh!  Ahh… Sempiit!” kata Kriis.

“IIiiuhh!”  Nabila terengah sewaktu kepala kemaluan Kriis mendadak memaksa menerobos liingkaran duburnya.  Dia secara refleks berusaha menghiindar, memang wajar kalo ada yg mencoba mendesakkan sesuatu ke dalem bokong.  Tetapi Nabila tak biisa ke mana-mana selagii Kriis mendorong piinggangnya ke depan seraya menggerung keras.  Masuklah tongkolnya ke dalem lubang dubur yg tak sepenuhnya rela tersebut sedikiit demii sedikiit.

“Auh!  Enak bangett!  Bokong lu masiih nggiigiit juga ya?” seru Kriis seraya mengerang keenakan.

“Hssshh…” Nabila mendesiis, sakiit campur enak, matanya berkaca-kaca sewaktu merasakan sepotong dagiing yg keras dan panas di saluran belakangnya.

Kriis mulaii bergerak maju-mundur menggempur piintu belakang Nabila tanpa ampun, kantong biijiinya menampar-nampar belahan bokong Nabila. Untungnya bagii Nabila, sesudah dua-tiiga meniit rasa sakiitnya berkurang menjadi sekadar rasa kurang nyaman. Bokongnya sudah bukan perawan sejak lama, jadi sudah tahu mestii bereaksii apa.

“Enak gak Ciit?  Lu masiih suka bokong lu dientot kan?” tanya Kriis seraya terengah.

“IIyah… Terus!  Teruus!” Nabila mulaii merasa enak.  Bagiian bawah perutnya mulaii merasakan sensasii niikmat dan jantungnya berdebar.

Kriis melambat, menariik keluar tongkolnya pelan-pelan lalu sewaktu nyariis keluar dia masuk lagii dgn cepat dan kasar.  Dan…

“Uh…hhh!”

Nabila merasakan sesuatu yg panas menyembur di dalem bokongnya.  Kriis ejaqulasii.  Kedua tangan Kriis mencengkeram belahan bokong Nabila yg berada di atas, seolah mau menyempiitkan saluran yg sedang dimasukii kejantanannya. Kriis baru mencabut kemaluannya sesudah puas melampiiaskan nafsu di dalem bokong Nabila. IIa merasakan sebagiian sperma Kriis iikut meleleh keluar bersamaan dgn pergiinya tongkol Kriis darii dalem bokongnya. Nabila tetap berbariing menyampiing, enggak langsung bangun.  Diliihatnya Kriis mengambiilii tiisu untuk menyeka badannya sendirii. Nabila tersebut kemudian membereskan lagii pakaiiannya.

“Sesuaii perjanjiian kiita kemariin, ya.  Besok-besok kalo aqu datang, seperti gini lagii ya.”

Nabila dgn cepat mengambiil seliimut dan meliiliitkannya di sekeliiliing badan, lalu berdirii mengantar Kriis yg beranjak ke piintu ruangan.  Nabila tersenyum sinis seraya menaruh tangannya di pundak Kriis.

“Oke boss,” katanya dgn geniit.

Kriis membuka piintu, lalu berbaliik dan mengecup piipii Nabila. Lelaki tegap tersebut kemudian menuju piintu keluar salon, tanpa mengacuhkan seorang lelaki muda yg berdirii di tengah ruangan utama salon. Nabila melotot menonton lelaki muda tersebut.

“Putra?”

Memang masiih jam kantor, tetapi tak kenapa, Putra ada di salonnya. Adik Nabila tersebut memejamkan mata dan geleng-geleng kepala menonton kakaknya yg cuma terbungkus seliimut dan tadi diciium seorang aparat berseragam.

“Ya ampun, Kak…” keluh Putra.

“Apa siih?” Nabila menoleh ke kanan-kiirii dgn cuek, menonton ada satu bungkus rokok di atas meja, mengambiil sebatang dan menjepiitnya di biibiir, esexeseks.com lalu siibuk mencarii korek apii.

“Ada korek nggak?” tanya Nabila kepada Putra.

“Kakak nggak pernah berubah, ya…” Putra enggak menanggapii pertanyaan kakaknya.

“Jangan sok kaget gtersebut lah,” kata Nabila sesudah menemukan korek gas di satu lacii. Dia menyalakan rokoknya.

“Eh bukannya ini masiih jam kerja?”

“Kak,” kata Putra dgn nada seriius.

“Aqu mau tanya.  Soal Miranda.”

Nabila membelalak tanpa berkata apa-apa.  Wajahnya berubah seriius juga.

“…Kakak pake baju dulu deh, sebelom jawab,” usul Putra.  Riisii juga dia menonton kakaknya cuma berbungkus sehelaii kaiin.

 

*****

Sejam kemudian…

 

Putra sudah kembalii ke kantor sesudah tadi mampiir sebentar ke salon kakaknya, tanpa mampiir ke rumah. Kepalanya terasa agak berat sesudah dia mendengar jawaban Nabila.

“Miranda, sedang apa kamu?”

Tetapi dia tahu sebagiian penyebabnya adalah diriinya sendirii. Begitu masuk kantor, Febby, sekretariis Mang Sutub, memanggiilnya.

“Mas Putra!  Dicariiiin bos,” kata perempuan berkacamata tersebut. Putra langsung menuju ruangan Pak Juprii aliias Mang Sutub, atasannya.

“Nah ini baru dateng anaknya.  Ke mana aja kamu?  Kenaliin, ini Pak Enriico,” kata Mang Sutub yg sedang menghadapii seorang tamu yg berpenampiilan pengusaha.

“Putra,” Putra memperkenalkan dirii.

“Enriico,” kata orang tersebut.

Pembiicaraan dimulaii. Enriico rupanya sedang menggagas kerjasama dgn Mang Sutub untuk membuka perwakiilan perusahaan tersebut di daerahnya.  Menurut Enriico, produk perusahaan mereka belom banyak tersedia di sana.  Mang Sutub sudah mengontak bagiian-bagiian laiin perusahaan untuk menceriitakan rencana Enriico, dan perusahaan menyetujuii. Maka sekarang persiiapan pembukaan cabang biisa dimulaii.

“Jadi, saya ngundang Pak Juprii untuk berkunjung ke kota saya, biiar biisa liihat sendirii keadaan di sana. Sekaliian nantii saya kenalkan dgn rekan-rekan kiita dan juga piihak berwenang di sana—lumayan, buat memperlancar urusan kiita,” kata Enriico.

“Pak Enriico, teriima kasiih undangannya,” jawab Mang Sutub.

“Saya senang sekalii kalo biisa ke sana. Katanya di sana pembangunan mulaii rame, ya?  Pastii beda dgn waktu dulu saya masiih muda ke sana, dulu sepii!  Ah, tetapi sayg saya lagii jalanii pengobatan, enggak boleh pergii jauh-jauh untuk sementara waktu.”

Putra yg darii tadi mendengarkan langsung menoleh ke Mang Sutub. Dia tahu Mang Sutub sebenarnya enggak sedang menjalanii pengobatan (masalah kesehatan Mang Sutub cuma ejaqulasii dinii saja). Kata-kata barusan tersebut sekadar alasan untuk…

“…jadi nantii biiar yg ke sana Putra, sbg perwakiilan saya.  Dia sudah biiasa ngurus semuanya.  Giimana Putra, kamu biisa kan?” Putra tersenyum.

“Biisa,” jawabnya pendek.

“Kapan, Pak Enriico?”

“Dua harii lagii saya pulang ke sana.  Barangkalii kiita biisa bareng. Kiira-kiira perlu berapa harii?” kata Enriico.

“Semiinggu?” Mang Sutub langsung memotong sebelom Putra menjawab.  Enriico mengangguk setuju.

Semiinggu sebenarnya terlalu lama, Putra membaygkan, sekadar surveii lokasii dan berkenalan dgn orang-orang setempat paliing-paliing perlu tiiga harii.

“Oke, kalo begitu nantii saya kontak lagii Pak Putra untuk persiiapannya.  Semuanya biiar saya yg urus,” kata Enriico.  Kemudian Enriico pamiit dan pergii.

Kunjungii JUga Halamandewasa.net

*****

Malamnya, di rumah Putra dan Miranda…

“Mas mau pergii semiinggu?” tanya Miranda.  Putra berbariing di tempat tiidur, sementara Miranda duduk di depan meja riias.  Keduanya hendak beriistiirahat sesudah sehariian beraktiiviitas.

“IIya…” Putra menyebutkan nama kota tujuannya, yg terletak di pulau laiin.  Diliihatnya wajah Miranda sepertii kurang senang.

“Ajak dong Mas…” piinta Miranda manja.

“Yah, giimana ya… sepertinya nantii bakal siibuk urusan kantor di sana.  Ntar kamu malah nganggur di kamar hotel dong,” jawab Putra.

“Nantii kalo sempat cutii deh, kiita ke sana. Katanya sekarang di sana rame, banyak tempat wiisata, soalnya pembangunannya maju. Kepala daerahnya hebat.”

“IIiih, curang,” Miranda merajuk.

“Katanya perempuan darii sana cakep-cakep, ya?”

“Terus?” Putra nyengiir.  Tetapi dalem hatiinya, dia mulaii biisa membaca iisii hatii Miranda, kerana dia sudah mendengar penjelasan Nabila. Makanya dia enggak heran menonton Miranda bukannya membersiihkan muka untuk persiiapan tiidur, malah memulaskan liipstiik tiipiis saja di biibiirnya.

“Pastii kamu mau ditraktiir perempuan di sana… IIya kan?” kata Miranda seraya beranjak darii meja riias, lalu menghampiirii swaminya di tempat tiidur.

Putra tersenyum menonton isterinya, perempuan cantiik yg malam tersebut berdaster kuniing, beriias wajah tiipiis, dan berbau wangii. Jelas Miranda enggak mau langsung tiidur…  Miranda berbariing menyampiing, menghadap Putra, memberiikan ciiuman mesra kepada swaminya.

“Yah… kamu tahu kan, biiasa orang biisniis, entertaiin-nya giimana,” Putra enggak berusaha mengelak. Toh Miranda sudah tahu salah satu kelemahannya. Putra merasakan tangan Miranda menyeliip ke baliik celananya.

“Eh…”

Tangan Miranda terasa liiciin.  Liiciin dan mulaii membelaii-belaii kemaluan Putra.  Putra merangkul isterinya dan menciium keniing Miranda.

“Hayo… mau ngapaiin tangannya di sana…” goda Putra.

Miranda membalas dgn mengecup biibiir Putra lalu menariik ujung kaos Putra, menyiingkap body atas Putra. Sementara tersebut Miranda terus menciiumii body swaminya, darii biibiir turun ke dagu, rahang, leher.

Putra menahan nafas. IIa sekarang paham sebagiian besar ceriitanya.  Perubahan Miranda sesudah memergokii kebiiasaan buruknya tersebut sebagiian disebabkan Nabila juga. Nabila berceriita bagaiimana Miranda miinta saran supaya Putra enggak perlu lagii meliiriik perempuan laiin. Dan kakaknya itu, yah, sudah tahu apa yg Putra suka. Jadilah Nabila membantu Miranda membentuk-ulang diriinya supaya lebiih biisa memenuhii iimpiian Putra. Miisalnya sepertii yg terjadi sekarang. Sebelomnya, Miranda sangat konservatiif dan lebiih banyak pasiif di ranjang. Sekarang, Miranda dgn geniitnya merayu dan menggeraygii Putra.  Aksiinya sudah enggak kalah dgn perempuan-perempuan penghiibur yg dulu (dan kadang sekarang) memberii Putra keniikmatan badan. Miranda yg dulu enggak terpiikiir melaqukan apa yg dilaqukannya kini. Tangan Miranda sudah menyentuh kemaluan Putra yg sedikiit tegak, jemari-jemari Miranda merangkum batang Putra. Miranda mulaii membelaii-belaii organ iintiim swaminya, darii bawah ke atas dan kembalii lagii, dan membuatnya tegang sempurna.  Putra tersentak sedikiit sewaktu kocokan Miranda makiin cepat.

“Ah…”  Putra menonton isterinya meliiriik nakal dan kembalii menciium biibiirnya.  Ah, betapa maniis biibiirnya.  Ah… dia kok jadi jago ngocok juga?

“Pelan… sayg…” biisiik Putra.

Miranda mengabulkan permiintaan tersebut dan mengurangii iintensiitas kocokannya.  Putra tadi sudah nyariis keluar, tetapi dia enggak mau buru-buru.  Tangan Putra mencengkeram lengan atas Miranda, wajahnya terliihat berusaha menahan keniikmatan, sementara rambut panjang Miranda menyapu hiidung Putra selagii Miranda mengulum salah satu teliinga Putra.  Beberapa waktu lalu, Miranda sempat memberiikan serviis ‘mandi kuciing’, dan Miranda baru menemukan bahwa Putra punya point sensiitiif di sana. Putra mengerang keras selagii Miranda kembalii kencang mengocoknya. Perciikan-perciikan caiiran hangat lengket melompat keluar darii ujung tongkolnya dan mendarat di mana-mana, di kaos dan dada Putra, di daster Miranda, di sepreii. Miranda tak melepas dan terus mengocok sampaii ejaqulasii Putra selesaii.

“Yah… berantakan niih.  Kamu siih nakal, gak biilang-biilang dulu,” goda Putra seraya meniikmatii perasaan niikmatnya.

“Habiisnya Mas Putra mau pergii… jadi ya mumpung sempat sama Mas Putra,” jawab Miranda.

Miranda sendirii merasakan ujung pentilnya mengeras dan selangkangannya membasah. Membuat swaminya biisa orgasme dgn tangan sudah cukup merangsang bagiinya, dan andaii Putra mau melanjutkan, dia merasa dia biisa langsung ‘dapat’. Putra meraiih wajah Miranda. Ciiuman yg menyusul sungguh panas. Liidah mereka berdua saliing menjelajah, tetap sepertii menemukan hal-hal baru meski keduanya sudah berkalii-kalii berciiuman.

“Beresiin dulu nggak?” goda Miranda.

“Nggak usah, kan mau dilanjutiin?” Putra menanggapii.

Detiik beriikutnya Miranda didorong sehiingga telentang, kedua pergelangan tangannya ditahan kedua tangan Putra, kedua lutut Putra mengepiit kedua pahanya.

“Aqu kan masiih dua harii lagii pergiinya, sayg,” kata Putra pura-pura tak butuh.

“Biiariin aja… Mas…” Putra menonton Miranda menggiigiit biibiir kemudian kembalii berkata.

“Mas aqu pengen…”

Putra enggak perlu dimiinta lagii. Sedetiik kemudian body keduanya sudah bersatu.

*****

Same category